Moralitas Para Pelajar dan Teladan Akhlak Kader IPNU IPPNU Terhadap Seorang Guru

0

Guru merupakan sosok yang penulis yakini memiliki tempat tersendiri di hati murid-muridnya. Baik guru di pendidikan formal, di sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, perguruan tinggi atau di pendidikan non formal seperti di pesantren, madrasah dan lainnya. Hal itu bukan tanpa alasan, ilmu yang telah diberikan, bimbingan dan arahan yang diberikannya selama kita di sekolah, di pesantren dan lain-lain biasanya sangat berguna bagi kehidupan. Oleh karena itu, sampai kapan pun, bagi sebagian murid, jasa guru itu kadang terkenang sampai dia sudah dewasa dan sukses.

Hari ini, 25 November biasanya diperingati sebagai Hari Guru Nasional oleh masyarakat Indonesia. Sebuah peringatan yang menurut penulis amat bagus dan edukatif. Apalagi di tengah keadaan zaman yang memang cukup memprihatinkan, di mana kita bisa dengan mudah menemukan ada seorang siswa atau murid yang berani melawan gurunya (tanpa alasan yang bisa dibenarkan), membully bahkan sampai mengajak adu jotos.

Tidak perlu disebutkan detail peristiwanya di mana saja, perihal detail bisa dicari di media-media informasi atau pemberitaan lokal maupun nasional. Yang jelas, keadaan dan peristiwa-peristiwa kurang menyenangkan terhadap seorang guru itu seperti mencirikan bahwa moralitas dan sopan santun di kalangan pelajar atau murid kepada gurunya dan orang yang lebih tua terasa semakin menurun.

Kemarin malam, seorang teman yang sekaligus guru ngaji juga menyampaikan keluhannya perihal sopan santun muridnya terhadap dia. Bagaimana muridnya ketika ditegur tidak terima dan malah menjelek-jelekannya secara membabi buta (tanpa sepengetahuannya) serta masih banyak lagi. Karena itu, peringatan Hari Guru Nasional hari ini harus dimanfaatkan betul untuk aktivitas merenung dan mengubah sikap kita (sebagai murid) terhadap guru.

Ada banyak sebetulnya cara-cara bersikap (adab) yang baik dan santun terhadap guru. Seperti misalnya yang dinasihatkan oleh Imam al-Ghazali (yang saya kutip dari NU Online) dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 431), yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:

“Adab murid terhadap guru, yakni: mendahului beruluk salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru, “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda”, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya ketika guru di dalam majelis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga guru sampai di rumah, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika guru sedang lelah.”

Pada intinya, nasihat imam Al-Ghazali ini mengisyaratkan bahwa sebagai murid pertama kita harus hormat kepada guru. Hormat itu mencakup menyapa atau mencium tangan mencium tangan ketika berpapasan, menghargai setiap pembicaraan dan nasihat atau tegurannya, dan senantiasa mengingatnya ketika sudah sukses serta masih banyak lagi. Bagaimanapun, perlu diingatkan kembali, guru merupakan sosok yang pasti ada dibalik setiap kesuksesan seseorang. Sehingga peranan guru amat perlu dihormati, dihargai dan diapresiasi. Terutama oleh murid yang memang mendapatkan manfaat dari apa yang diajarkan oleh gurunya.

Adapun bagi kader Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU), seharusnya perihal adab dan cara-cara bersikap yang baik terhadap guru, para kiai dan ulama sudah melekat dalam diri masing-masing. Karena latar belakang pendidikan kader IPNU IPPNU memang rata-rata amat memperhatikan persoalan itu. Sehingga di Hari Guru Nasional ini, kader-kader IPNU IPPNU harus bisa menjadi teladan bagi para pelajar, mahasiswa atau para pemuda lain dalam urusan bersikap kepada guru.

Bahkan jika perlu, kader-kader IPNU IPPNU juga harus menjadi pengajak dan pengedukasi para pelajar, mahasiswa atau para pemuda lainnya agar bersikap secara baik dan beradab kepada gurunya masing-masing (tanpa mengesampingkan sikap-sikap kritis). Di lingkungan sekolah (formal maupun non formal) atau di luar sekolah (di lingkungan sosial). Sehingga kasus-kasus kurang bermoral dan kurang beradab kepada guru (seperti yang sekarang sering mengemuka) bisa semakin terminimalisir dari hari ke hari, atau mudah-mudahan tidak ada.

Share on :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *