Pemuda dan Strategi Survive di Era VUCA

Cirebon – Istilah VUCA pernah disinggung salah satunya oleh Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli ketika memberikan orasi ilmiah dalam acara wisuda SMAIT Ummul Quro, Bogor, Jawa Barat. VUCA merupakan singkatan kependekan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity.
Saat ini, dunia memasuki era VUCA. Era VUCA adalah sebuah istilah yang menggambarkan kondisi dunia yang ditandai oleh volatilitas (Volatility), ketidakpastian (Uncertainty), kompleksitas (Complexity), dan ambiguitas (Ambiguity). Era VUCA adalah era di mana perubahan terjadi sangat cepat, sulit diprediksi, dan penuh tantangan.
Era VUCA membuat siapapun apalagi anak muda harus mampu beradaptasi dengan cepat. Baik dalam urusan ekonomi, sosial, pendidikan dan sebagainya. Dalam urusan ekonomi, banyak sekali perubahan yang terjadi di bidang industri, transaksi perdagangan dan seterusnya. Teknologi mulai mendominasi dalam bidang ekonomi.
Semua perubahan itu membuat anak muda perlu memiliki kompetensi yang mendukung agar dirinya mampu survive menghadapi berbagai perubahan yang tak terduga di bidang ekonomi. Saya setuju dengan penyampaian Menaker yang disampaikannya ketika orasi ilmiah di SMAIT Ummul Quro.
Menurutnya, anak muda sekarang harus mampu menciptakan peluang, bukan hanya menunggu kesempatan. Beberapa kompetensi seperti menguasai keterampilan digital, komunikasi global, dan kemampuan sosial perlu diusahakan. Selain itu mental pantang menyerah dan optimis juga penting dimiliki anak muda. Lebih-lebih mental untuk terus belajar.
Era VUCA di Indonesia diperparah dengan munculnya rentetan peristiwa geopolitik global seperti yang terbaru konflik Pakistan-India. Konflik bersenjata itu berpotensi mengganggu kinerja ekspor minyak sawit yang cukup besar menyumbang terhadap perekonomian nasional. Di dalam negeri pun beberapa kebijakan yang kurang pertimbangan serasa memperparah kondisi yang sudah parah itu.
Tak heran banyak anak muda yang kemudian sulit bekerja, PHK besar-besaran dan mulai berpikir untuk bekerja ke luar negeri. Mereka menganggap bahwa upah dan mencari pekerjaan di luar negeri tak sesulit di Indonesia. Diakui atau tidak, hal itu memang menjadi realita yang tidak bisa dibantah.
Sebetulnya, Indonesia saat ini sedang menghadapi fase bonus demografi yang bisa membawa keuntungan bagi perekonomian. Namun syaratnya lapangan kerja harus tersedia banyak. Pun keterampilan SDM. Dua hal itu sampai kini masih belum bisa dikatakan bagus. Lapangan kerja di Indonesia sempit. Konsep pendidikan yang kurang efektif juga mempengaruhi kualitas SDM dalam negeri.
Pemerintah Indonesia di tingkat pusat, daerah sampai desa memang perlu merumuskan langkah konkret yang bisa mengatasi dua hal tersebut. Saya pernah menulis, bonus demografi punya dua konsekuensi logis, pertama baik dan kedua buruk. Baik itu ketika pemerintah (didukung oleh masyarakat) mampu mewujudkan iklim kerja dan pendidikan yang membangun perekonomian. Buruk itu ketika pemerintah tidak mampu mewujudkan hal itu.
Menaker sendiri menekankan pentingnya memiliki model kompetensi yang ideal di tengah arus teknologi dan globalisasi, yaitu dengan menguasai dua keterampilan spesifik dan satu keterampilan umum. Saya juga setuju dengan itu, tapi saya menekankan menjaring relasi dan jiwa entrepreneurship untuk anak-anak muda bisa survive di era VUCA.
Hal-hal seperti tersebut memang perlu dibangun oleh anak-anak muda. Sebagai pendukung, hal-hal tersebut juga perlu dikemas dalam bentuk program yang kemudian disosialisasikan kepada anak-anak muda oleh pemerintah, keluarga, masyarakat (individu maupun kolektif) dan lembaga pendidikan. Hal itu bertujuan sebagai langkah holistik untuk membuat generasi muda survive di era yang penuh tantangan ini.
Penulis: Ega Adriansyah